PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PENGOLAHAN BONGGOL PISANG MENJADI KERIPIK YANG DAPAT DIJADIKAN TAMBAHAN PENDAPATAN BAGI PETANI DI DESA SIHAS DOLOK I KECAMATAN PARLILITAN
Program Kreativitas Mahasiswa - Kewirausahaan
PKMK
Diusulkan Oleh :
Ketua kelompok : chatlyn 071277110164/2007
Anggota : masnauli sitohang 071277110211/2007
kasana simanullang 071277110193/2007
agus frengki purba 071277110197/2007
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2010
ABSTRAK
Pada masa sekarang banyak kalangan petani yang mengalami kerugian. Pasalnya, pengeluaran mereka untuk bertani lebih banyak daripada pendapatan dari hasil panen yang mereka jual. Harga pupuk dan pengolahan yang mahal ternyata tidak menghasilkan pendapatan yang tinggi pula.Faktor lain penyebab kesulitan ekonomi para petani tersebut adalah serangan hama yang tidak terduga. Akibatnya, sebagian tanaman mereka rusak dan gagal panen sehingga kerugian yang dialami petani sangat besar maka perlu mencari tambahan penghasilan dengan memanfaatkan tanaman-tanaman yang ada misalnya singkong, ubi, jagung, dan ketela.
Desa Sihas Dolok I Kecamatan Parlilitan misalnya, desa tersebut merupakan daerah yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang cukup tinggi. Petani di daerah tersebut selain menanam padi juga menanam pohon pisang baik untuk dijual maupun dikonsumsi sendiri.Bonggol pisang mudah didapatkan terutama di daerah ini. Hal ini tentunya sangat membantu dalam pelaksanaan program pembuatan keripik bonggol pisang yang merupakan tujuan utama dari Program kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan(PKMK) ini.
Tujuan dari program ini adalah untuk mendeskripsikan pengolahan bonggol pisang sampai menjadi barang ekonomis, mendeskripsikan prospek perekonomian masyarakat yang diharapkan setelah memanfaatkan bonggol pisang menjadi barang ekonomis, serta mendeskripsikan respon masyarakat desa Sihas Dolok I terhadap keberadaan keripik bonggol pisang. Ketiga tujuan tersebut dijadikan sebagai acuan dalam arah pelaksanaan program.
Program pemanfaatan bonggol pisang ini dilakukan di desa Sihas Dolok I Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program ini adalah percobaan dengan melakukan praktek dan turun ke lapangan untuk memasarkan hasil olahan tersebut. Sebagai langkah awal adalah melaksanakan observasi dan hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar lahan yang ada di daerah tersebut didominasi tanaman pisang. Berdasarkan fakta tersebut dapat dipastikan bahwa sebagian besar lahan yang ada di daerah tersebut akan menjadi obyek program ini. Langkah selanjutnya adalah memproduksi keripik bonggol pisang dalam jumlah yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Untuk menjadi keripik, bonggol pisang harus diproses dengan cara dihaluskan. setelah bonggol pisang dihaluskan lalu diperas untuk menghilangkan airnya. Jika air dalam bonggol telah berkurang, ampas bonggol inlah yang akan diproses menjadi keripik. Selanjutnya tinggal menambahkan bumbu sesuai selera, lalu mencetak dan menjemurnya di bawah terik matahari hingga kering. Jika ampas bonggol berbumbu ini telah kering sempurna, selanjutnya menggoreng dan menambahkan bumbu tabor untuk memperkaya rasa. Jika musim penghujan, alternatif menjemur yang bisa dilakukan adalah dengan mengeringkan ampas bonggol pisang berbumbu dalam oven panas bersuhu alternative 90 menit, baru kemudian dapat digoreng.
Dalam pelaksanaan program pengolahan bonggol pisang ini, tidak ada teknologi canggih yang digunkanan. Hanya menggunakan alat-alat sederhana yang sudah banyak dimiliki oleh penduduk desa. Program ini dilakukan dengan uji coba terhadap rasa agar hasilnya diminati masyarakat sehingga memiliki nilai ekonomis tinggi. Untuk menunjang proses pemasaran dan menghasilkan laba yang maksimal, maka kemasan juga harus diperhatikan. Pangsa pasar yang dituju terlebih dahulu adalah daerah Parlilitan dan sekitarnya, tetapi untuk jangka panjang diharapkan dapat tersebar ke seluruh Doloksanggul. Pemasaran keripik bonggol pisang menggunakan metode pemasaran secara langsung yaitu dengan cara menitipkan produk di beberapa toko di daerah sekitar parlilitan dan sisa produk yang tidak terjual akan diambil pada saat penitipan produk dalam periode produksi selanjunya. Dari hasil penjualan awal akan dilakukan evaluasi pasar mengenai respon konsumen terhadap produk tersebut sehingga produsen dapat memperbaiki dan menambah keragaman rasa keripik bonggol pisang, misalnya pedas, manis, keju,jagung bakar, dan lain sebagainya.
Pengolahan bonggol pisang menjadi barang ekonomis dilaksanakan sesuai dengan metode pelaksanaan program. Pada proses produksi, pelaksana tidak menggunakan teknologi, melainkan menggunakan teknologi tradisional, dengan harapan bisa diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat di Desa Sihas Dolok I. Respon masyarakat terhadap adanya keripik bonggol pisang cukup baik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya penjualan produk di daerah Parlilitan serta antusiasme warga untuk mengikuti sosialisasi pembuatan keripik bonggol pisang. Selain itu, keripik bonggol pisang merupakan produk inovatif yang jarang ditemui dan memiliki cita rasa khas dengan tambahan bumbu barbeque sehingga menjadikannya produk dengan daya tarik yang cukup tinggi. Program ini ternyata berhasil meningkatkan nilai guna bonggol pisang yang semula dianggap sebagai sampah menjadi barang ekonomis yang layak serta laku di pasaran. Pengembangan usaha perlu dilaksanakan dalam skala yang lebih luas, oleh karena itu partisipasi dari pemerintah sangat diharapkan untuk turut mendukung dan memfasilitasi program ini. Selain itu, ijin usaha perlu segera dilaksanakan karena hal ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan program pembuatan keripik bonggol pisang ini.
Kata Kunci: bonggol, keripik, petani, pendapatan, profit
A. Judul Program : Pengolahan Bonggol Pisang Menjadi Keripik Yang Dapat Dijadikan Tambahan Pendapatan bagi Petani di Desa Sihas Dolok I Kecamatan Parlilitan
B. Latar Belakang Masalah
Pada masa sekarang banyak kalangan petani yang mengalami kerugian. Pasalnya, pengeluaran mereka untuk bertani lebih banyak daripada pendapatan dari hasil panen yang mereka jual. Harga pupuk dan pengolahan yang mahal ternyata tidak menghasilkan pendapatan yang tinggi pula.
Misalnya petani gabah sekarang sering dirugikan, biaya perawatan dan modal tidak sebanding dengan hasil panen yang dipeIoleh, harga jual gabah terkadang anjlok. Belum lagi factor lain penyebab kesulitan ekonomi para petani tersebut adalah serangan hama yang tidak terduga. Akibatnya, sebagian tanaman mereka rusak dan gagal panen sehingga kerugian yang dialami petani sangat besar maka perlu mencari tambahan penghasilan dengan memanfaatkan tanaman-tanaman yang ada misalnya singkong, ubi, jagung, dan ketela.
Desa Sihas Dolok I Kecamatan Parlilitan misalnya, desa tersebut merupakan daerah yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang cukup rendah sehingga sangat memerlukan intensifikasi untuk memperbaiki unsur hara (PH) tanah tersebut. Selain padi, petani di daerah tersebut juga menanam pohon pisang baik untuk dijual maupun dikonsumsi sendiri, dan bonggol pisang tersebut kurang dimanfaatkan, karena hanya digunakan sebagai kompos.
Melihat fenomena seperti ini, kami mengangkat pemanfaatan bonggol pisang untuk menjadi program karya ilmiah kami. Selain itu, bonggol pisang mudah didapatkan terutama di desa Sihas Dolok I yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.
Kami berharap, Program Kreativitas Mahasiswa ini dapat bermanfaat bagi masyarakat petani di desa Sihas Dolok I untuk menambah pendapatan penduduk setempat.
C. Perumusan Masalah
Untuk mendeskripsikan pengolahan bongol pisang menjadi barang yang ekonomis di Desa Sihas Dolok I Kecamatan Parlilitan, sehingga dapat dirumuskan masalah ” Bagaimana Pengolahan Produk Non Ekonomis Seperti Bongol Pisang Menjadi Produk Ekonomis.
D. Tujuan Program
Program ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan pengolahan bonggol pisang menjadi barang ekonomis
2. Mendeskripsikan prospek perekonomian masyarakat yang diharapkan setelah memanfaatkan bonggol pisang menjadi barang ekonomis
3. Mendeskripsikan respon masyarakat terhadap keberadaan keripik bonggol pisang.
E. Luaran Yang Diharapkan
Dengan jangka waktu 3 bulan setelah pelaksanaan program PKMK diharapkan dapat :
Menghasilkan luaran berupa keripik bonggol pisang yang siap dijual.
Menambah penghasilan para petani
Meningkatkan inovasi dan kreativitas para petani
Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di desa Sihas Dolok I Kecamatan Parlilitan.
F. Kegunaan Program
Pelaksanaan program di atas berguna kepada :
1. Petani
Sebagai alternative untuk perbaikan dan peningkatan ekonomi bagi penduduk sekaligus sebagai tambahan pengetahuan mengenai tanaman yang dinilai tidak memiliki nilai guna menjadi barang yang sangat ekonomis dan memiliki nilai guna yang sangat tinggi.
2. Universitas Negeri Medan
Dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi mahasiswa yang akan melakukan program yang sama dan sebagai perbendaharaan perpustakaan Unimed.
3. Pelaksana Program / Mahasiswa
Merupakan pengalaman dan bekal pengetahuan serta ketrampilan dalam memecahkan persoalan dan memberikan sumbangan pemikiran tentang hal yang berhubungan dengan program pengolahan bonggol pisang ini.
4. Pemerintah Daerah
- Program PKMK yang dilaksanakan ini membantu program pemerintah.
- Tingkat pendapatan dan kesejahtaraan masyarakat menjadi meningkat, sehinggah pemerintah terbantu dalam program peningkatan kesejahteraan masyarakat.
G. Gambaran Umum Rencana Usaha
Adapun rencana usaha ini dilakukan di desa Sihas Dolok I kecamatan Parlilitan. Masyarakat Desa Sihas Dolok I pada umumnya mata pencaharian masyarakat adalah bertani, disamping itu mata pencaharian lainnya adalah sebagai wiraswasta dan PNS. Walaupum masyarakat desa ini sebagian bermata pencaharian wiraswasta, tetapi belum ada yang memanfaatkan bonggol pisang sebagai sumber penghasilan. Tingkat pendapatan masyarakat sangat rendah dapat dirataratakan sekitar Rp 1 juta per bulan. Hal ini disebabkan oleh tingkat kesuburan tanah sangat rendah sehingga diperlukan intensifikasi untuk memperbaiki unsur hara (PH) tanah tersebut , salah satunya dengan cara pemupukan. Kita tahu bahwa harga pupuk juga sangat tinggi dan masyarakat tidak mampu untuk membelinya. Untuk itu maka kami memiliki ide untuk megolah bonggol pisang menjadi keripik dan akan diperdagangkan untuk menambah pendapatan masyarat yang selama ini kurang dimanfaatkan.
H. Metode Pelaksanaan
Program pemanfaatan bonggol pisang ini dilakukan di Desa Sihas I Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program ini adalah percobaan dengan melakukan praktek dan turun ke lapangan untuk memasarkan hasil olahan tersebut.
Sebagai langkah awal adalah melaksanakan observasi dan hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar lahan yang ada di daerah tersebut didominasi tanaman pisang. Berdasarkan fakta tersebut dapat dipastikan bahwa sebagian besar lahan yang ada di daerah tersebut akan menjadi obyek program ini.
Langkah selanjutnya adalah memproduksi keripik bongol pisang dalam jumlah yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Untuk menjadi keripik, bonggol pisang harus diproses dengan cara dihaluskan, setelah bonggol dihaluskan lalu diperas untuk menghilangkan airnya. Jika air dalam bonggol telah berkurang, ampas bonggol inilah yang akan diproses menjadi keripik. Selanjutnya tinggal menambahkan bumbu sesuai selera, lalu mencetak dan menjemurnya dibawah terik matahari hingga kering. Jika ampas bonggol berbumbu ini telah kering sempurna, selanjutnya menggoreng dan menambahkan bumbu tabor untuk memperkaya rasa.
Jika musim penghujan, alternatif menjemur yang bias dilakukan adalah dengan mengeringkan ampas bonggol pisang berbumbu dalam oven panas bersuhu relatif selama 90 menit, baru kemudian dapat digoreng.
Untuk lebih jelasnya, berikut tahap-tahap dalam pembuatan keripik bonggol pisang:
1. Menyiapkan semua bahan dan peralatan yang dibutuhkan
2. Memotong-motong bonggol pisang
3. Merebus air yang dicampur dengan gara sampai mendidih untuk memasak bonggol pisang sampai lunak
4. Memotong kecil bonggol pisan lalu diparut
5. Memeras bonggol pisang dan mencampurnya dengan tepung tapioka, tepung terigu, dan bumbu halus, kemudian diaduk hingga rata
6. Adonan ditipiskan kemudian dijemur hingga kering
7. Keripik bonggol pisang yang telah kering, digoreng hingga matang, ditiriskan lalu ditaburi bumbu barbeque
Dalam pelaksanaan program pengolahan bonggol pisang ini, tidak ada teknologi canggih yang digunakan. Hanya menggunakan peralatan sederhana yang sudah banyak dimiliki oleh masyarakat.
Program ini dilakukan dengan uji coba terhadap rasa agar hasilnya diminati masyarakat sehingga memiliki nilai ekonomis tinggi.
Untuk menunjang proses pemasaran dan menghasilkan laba yang maksimal, maka kemasan juga harus diperhatikan. Pangsa pasar yang dituju terlebih dulu adalah daerah Parlilitan dan sekitarnya, tetapi untuk jangka panjang diharapkan dapat tersebar ke seluruh Dolok Sanggul. Pemasaran keripik bonggol pisang menggunakan metode pemasaran secara langsung yaitu dengan cara menitipkan produk di beberapa toko di daerah sekitar Parlilitan dan sisa produk yang tidak terjual akan diambil pada saat penitipan produk dalam periode produksi selanjutnya. Dari pemanfaatan bonggol pisanag ini diharapkan laba yang diperoleh adalah separuh dari biaya produksi yang telah dikeluarkan.
Dari hasil penjualan awal akan dilakukan evaluasi pasar mengenai respon konsumen terhadap produk tersebut sehingga produsen dapat memperbaiki dan menambah keragaman rasa keripik bonggol pisang, misalnya pedas, manis, keju, jagung baker, dan lain sebagainya.
I. Hasil Dan Pembahasan
Produk yang dihasilkan mendapat respon yang cukup baik dari konsumen, terutama masyarakat di desa. Hal ini dapat dilihat dari antusias penduduk desa untuk mengikuti sosialisasi serta ikut terjun langsung dalam pembuatan keripik bongol pisang.
Selain itu, keripik bonggol pisang merupakan produk inovatif yang jarang ditemui dan memiliki cita rasa khas dengan tambahan bumbu barbeque sehingga menjadikannya produk dengan daya tarik yang cukup tinggi.
Kegiatan program yang dilaksankan agak berbeda dengan yang terdapat pada proposal pengajuan PKM karena ada beberapa agenda kegiatan yang tidak direncanakan sebelumnya dan harus dilaksankan. Kegiatan-kegiatan yang tidak dijadwalkan pada proposal adalah antara lain sosialisasi kepada warga dan rekruitmen pekerja.
Selama 3 bulan produksi, daerah pemasaran produk masih terbatas di daerah Parlilitan. Tujuan selanjutnya adalah memperluas daerah pemasaran yaitu tidak hanya di daerah Parlilitan tetapi juga di daerah sekitar Dolok Sanggul.
Perluasan daerah pemasaran tentunya akan memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Oleh karena itu, hal ini akan dilakukan dengan beberapa pertimbangan antara lain laba yang dihasilkan serta respon masyarakat di luar desa Sihas I terhadap produk ini.
Pada proses pembuatan produk ini dibutuhkan dua orang karyawan yaitu warga desa Sihas I. Kerja yang dilakukan mulai dari pengambilan bonggol sampai penggorengan keripik.
Sedangkan pengemasan dilakukan oleh semua anggota PKMK. Perekrutan pekerja bertujuan untuk mensosialisasikan pembuatan keripik pada warga secara tidak langsung.
Dengan adanya respon yang baik dari masyarakat terhadap program ini, serta didukung dengan prediksi program, pelaksana berkeyakinan bahwa program ini akan berjalan dengan baik, tidak hanya pada 3 bulan mendatang tetapi juga pada masa-masa produksi selanjutnya.
J. Kesimpulan
Dari hasil beserta pembahasan diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain:
1. Pengolahan bonggol pisang menjadi barang ekonomis dilaksanakan sesuai dengan metode pelaksanaan program. Pada proses produksi, pelaksana tidak menggunakan teknologi, melainkan menggunakan teknologi tradisional, dengan harapan bisa diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat di Desa Sihas I.
2. Respon masyarakat terhadap adanya keripik bonggol pisang cukup baik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya penjualan produk di daerah Parlilitan serta antusiasme warga untuk mengikuti sosialisasi pembuatan keripik bonggol pisang.
K. Jadwal Kegiatan Program
a. Jadwal Kegiatan
No. Nama Kegiatan Bulan Bulan Bulan
I II III
1 Membuat Proposal
2 Meninjau Lokasi
3 Revisi Proposal
4 Mengajukan Proposal
5 Pelaksanaan Program
6 Penyusunan Laporan Akhir
a. Jadwal Pelaksanaan
No Nama Kegiatan Bulan Bulan Bulan
I II III
1 Peninjauan Sebelum Hari H
3 Acara kegiatan :
a. Menyiapkan bahan dan
peralatan yangdiperlukan.
b. Membuat kripik pisang
4 Mengemas kripik yang telah dibuat
5 Pemasaran kripik
L. Biaya
No. Biaya Banyak Harga Satuan Total
1. Bahan Habis Pakai
a. ATK 1 set Rp 100.000,- Rp 100.000,-
b. Proposal kegiatan 4 exemplar Rp 25.000,- Rp 100.000,-
c. Laporan kegiatan 2 exemplar Rp 50.000,- Rp 100.000,-
2. Bahan Penunjang
a. Bahan dan alat - Rp. 4.000.000,- Rp. 4.000.000,-
b. Sewa tempat 1 buah Rp. 700.000,- Rp. 700.000,-
c. Sewa komputer 1 buah Rp. 200.000,- Rp. 200.000,-
d. Pemasaran - Rp. 1.000.000,- Rp. 1.000.000,-
e. Promosi - Rp. 400.000,- Rp. 400.000,-
3. Bahan Lain
a. Transportasi 4 orang Rp. 500.000,- Rp. 2.000.000,-
b. Konsumsi 4 orang Rp. 300.000,- Rp. 1.200.000,-
c. Dokumentasi - Rp. 200.000,- Rp. 200.000,-
M. Lampiran
Tahapan Pelaksanaan Kegiatan